Penerapan Undang-Undang TPKS Subdit Renakta Polda Metro Jaya

Undang-undang tindak pidana kekerasan seksual yang disahkan pada bulan April lalu menjadi bukti bahwasanya negara turut hadir bagi korban kekerasan seksual, salah satunya dibuktikan oleh subdit renakta Polda Metro Jaya yang menjadi institusi pertama menerapkan UU tpks baik penindakan pelaku maupun pemulihan korban kekerasan seksual.

Kompol Ratna Quratul Ainy,S.iK., M.Si Kasubdit Renakta Polda Metro Jaya undang-undang tentang tindak pidana kekerasan seksual itu sendiri dituangkan dalam undang-undang Nomor 12 Tahun 2022 dan itu sudah disahkan olehPresiden Jokowi pada tanggal 9 Mei Tahun 2022 apakah undang-undang akan berlaku bagi masyarakat Indonesia dan undang-undang TPKS ini sudah kami terapkan dalam beberapa penanganan perkara yang ada di Subdit Renakta.

Mulai sekarang jangan sungkan-sungkan untuk melapor apabila kalian mengalami ataupun melihat tindak kekerasan seksual.

Jangan Takut Lapor

Dengan hadirnya UU TPKS dan aplikasi HELP RENAKTA kami berharapap masyarakat tidak takut lagi jika melihat atau mengalami tindak kekerasan seksual untuk melapor kepada kepolisian terdekat.

Kompol Ratna Quratul Ainy,S.iK., M.Si Kasubdit Renakta Polda Metro Jaya Menghimbau Jika kamu menjadi korban kekerasan seksual, jangan takut untuk lapor, karena kamu dilindungi oleh hukum dan kamu juga bisa segera laporkan melalui aplikasi help renakta. Download segera aplikasinya.

Subdit Renakta PMJ Siap Bantu pencegahan dan Penanganan Kasus kekerasan

Subdit Renakta adalah Sub Direktorat Remaja, Anak dan Wanita merupakan salah satu unsur pelaksana tugas pokok dalam organisasi Dit Reskrimum Polda Metro Jaya yang Bertugas melakukan penyidikan tindak pidana umum yang spesifik terhadap pelaku atau korbannya adalah anak, remaja, wanita dan oleh karena kondisi dan sifatnya membutuhkan proses penanganan secara khusus.

Kasubdit Renakta Polda Metro Jaya Kompol Ratna Quratul Ainy menjelaskan Tindak pidana kekerasan seksual saat ini seperti fenomena gunung es karena masyarakat banyak yang menjadi korban tetapi tidak berani melawan namun saat ini negara telah hadir untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat agar terhindar dari tindak pidana kekerasan seksual.Selasa (01/11/22)

“Melalui undang-undang nomor 12 tahun 2022 tentang tindak pidana kekerasan seksual dan ini adalah bukti nyata bahwa negara hadir memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak bagi korban kekerasan seksual dengan hadirnya undang-undang kekerasan seksual ini”.Ungkap Ratna

Lanjut,”kami berharap masyarakat tidak takut lagi apabila melihat atau mengetahui dan bahkan mungkin mengalami tindak pidana kekerasan seksual untuk segera melapor kepada kepolisian terdekat”

“Undang-undang nomor 12 tahun 2022  ini mengatur mengenai Pencegahan segala bentuk Tindak Pidana Kekerasan Seksual; Penanganan, Pelindungan, dan Pemulihan Hak Korban; koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; dan kerja sama internasional agar Pencegahan dan Penanganan Korban kekerasan seksual dapat terlaksana dengan efektif”.Tutup Ratna.

Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya ungkap Pelaku ekploitasi seksual terhadap anak di Jakarta

Jakarta – Subdit Rknakta Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya melakukan konferensi pers terkait kasus ekploitasi seksual terhadap seorang remaja berinial NAT (15) untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK).

“terdapat dua orang tersangka yang sudah ditetapkan oleh Subdit Reknakta Direktorat Reserse Kriminal Umum sebagai tersangka,” pertama seorang perempuan berinisial EMT dan satu lagi tersangka laki-laki RR alias Ivan. kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan, Rabu (21/9/2022).

Penyidik telah mengantongi dua alat bukti untuk meningkatkan status EMT dan RR dari terlapor menjadi tersangka. Zulpan mengatakan, unsur-unsur pasal yang dipersangkakan telah terpenuhi.

Hadir dalam konferensi tersebut perwakilan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan perwakilan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) DKI Jakarta serta Plh Kasubdit Reknakta.

Dalam kasus ini Tersangka dijerat dengan Pasal 76 I Jo Pasal 88 UU No. RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau Pasal 12 dan atau Pasal 13 UU RI NO. 12 tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun penjara

Peristiwa ini terbongkar setelah dilaporkan orang tua korban pada 14 Juni 2022. Laporan Polisi Nomor:LP/B/2912/VI/2022/SPKT.DITKRIMUM/POLDA METRO JAYA.